My Story with Emeron Complete Hair: Bye Bye Rambut Kaku dan Kasar!

Oleh: Riri Oktriani

Waktu berlalu begitu cepat. Baru saja melihat ufuk fajar, nggak taunya senja sudah menjelang. Rasanya baru saja bangun tidur, eh kok sudah malam lagi? Ternyata begitulah realitasnya jadi ibu rumah tangga “plus plus”. Tanpa asisten, semua dikerjakan sendiri. Ngurus anak, suami, dan A to Z urusan rumah tangga. Nah, yang “plus plus”-nya itu yang sering buat saya tak sadar waktu. “Plus plus” versi saya adalah ibu rumah tangga yang juga bekerja.

Saya bekerja dari rumah. Jadi asisten suami mengurus pemasaran bisnis online kami dan masih menyempatkan diri untuk jadi freelancer, menulis artikel konten. Sekilas, terlihat nyaman dan mudah. Tidak dituntut mobile, tidak perlu keluar rumah, yang penting koneksi internet on terus, maka kerjaan pun lancar jaya. Nyatanya tidak senyaman itu kok. Tidak pula segampang yang dikira. Betul, ada kenyamanan yang saya rasakan ketika bekerja bisa memantau perkembangan si kecil dari dekat. Ada kemudahan yang saya dapatkan saat bisa menjangkau customer dan tetap menulis tanpa harus repot ngantor menempuh jarak sekian kilometer.

Tapi, ada konsekuensi yang harus dihadapi ketika melakukan semuanya dari rumah. Saya tidak serta merta bisa seharian mantengin medsos online shop atau menulis di siang hari. Iya, saya kan ibu rumah tangga juga. Ada si baby toddler yang selalu butuh perhatian. Perkembangan aktifnya menuntut saya untuk memperhatikan dan mengawasinya hampir sepanjang waktu. Ada rumah yang harus resik dan rapi agar keluarga kecil saya tetap nyaman dan betah beraktivitas di dalamnya. Karenanya, pagi hari saya mesti curi-curi waktu untuk briefing kerjaan bareng suami. Siang hari, saya kudu pinter-pinter cari waktu luang untuk bisa chat sama customer yang bukan cuma satu dua orang. Malamnya, saat si kecil sudah tidur lelap, masih ada pekerjaan yang menanti. Entah itu briefing lagi untuk update orderan, menggunggah foto-foto produk, menulis pembukuan, dan memenuhi kontrak kerja penulisan dari klien. Tidak jarang, saya harus begadang agar pekerjaan nggak numpuk dan bisa selesai tepat waktu.

Kalau begini kondisinya, rasanya ingin deh bisa membelah atau menggandakan diri. Haha.

Sudah merasa paling sibuk sejagad raya, itu yang bikin saya lupa waktu dan lupa ngurus diri sendiri. Mentang-mentang lebih banyak indoor activity dan nggak kepanasan ternyata bikin saya teledor. Lupa kalau tubuh saya juga butuh perhatian. Jadwal rutinitas harian saya yang bisa dibilang padat, membuat saya nggak bisa menghindar dari yang namanya stres. Tubuh langsung bereaksi kalau sudah kena tekanan stres. Jadinya gampang capek, lelah, dan kurang semangat. Ujung-ujungnya, rambut saya juga ikut kena imbasnya.

Semakin lama saya perhatikan, entah mengapa rambut saya kok kurang berkilau, terasa kering dan kaku saat disentuh. Awalnya saya pikir ini pengaruh hormon. Ya, namanya juga perempuan, terlebih kalau lagi menstruasi, penampilan fisik suka mengikuti kondisi hormonal tubuh. Tapi, hari ke hari kok malah jadi makin nggak enak dilihat ya ini rambut? Susah diatur dan jadi ganggu aktivitas. Gimana nggak, saya kan jadi kepikiran terus!

Saya coba browsing buat cari tahu apa yang terjadi dengan rambut saya. Nggak nyangka, stres ternyata juga bisa bikin tampilan rambut jadi nggak stabil. Rambut yang tadinya sehat, mudah diatur, dan bercahaya langsung berubah total gara-gara tekanan stres. Rambut saya mendadak marah. Seolah ngasih ultimatum: kalau saya tidak melakukan sesuatu, maka semuanya akan menjadi lebih parah! Bahaya ini Jenderal! Bahaya kalau dibiarkan.

Oke. Tarik napas.

Inilah mengapa, kalau sudah berhadapan dengan kondisi yang begini, sudah saatnya untuk #DengarkanRambutmu. Melihat kondisi rambut saya yang kering, kasar, dan kaku saya mencoba mencari perawatan rambut yang lengkap. Sebab, untuk mengembalikan keindahan dan kesehatannya, rambut haruslah dinutrisi secara alami. Dan saya menemukannya ada pada Emeron Complete Hair Care. Spesifik, sesuai dengan permasalahan rambut yang saya alami, saya memilih Emeron Soft & Smooth yang diperkaya dengan sunflower.

IMG_0131
Saya sudah coba Emeron 🙂

Nggak mau lama-lama menderita rambut kering dan kasar yang susah diatur, saya langsung coba keramas dengan Emeron Nutritive Shampoo. Setelah dibilas bersih, saya lanjut pakai conditioner-nya. Diusap yang lembut dari bagian tengah sampai ujung rambut. Soalnya, biar setelah kering rambut nantinya jadi ringan dan mengembang dengan sempurna. Diamkan dulu beberapa menit, baru bilas rambut sampai bersih. Beres pakai conditioner, saya juga pakai hair vitamin Emeron Soft & Smooth. Sebab, saya ingin total dalam merawat rambut saya yang kering, kasar, dan kaku. Setelah sekilas mengeringkan rambut dengan handuk, saya usapkan hair vitamin Emeron dari bagian tengah sampai ujung rambut. Sama persis ketika saya pakai conditioner-nya. Pakainya dari bagian tengah rambut sampai ke ujungnya, karena maksudnya memang untuk merawat setiap helai rambut, bukan kulit kepala ya.

Emeron Soft & Smooth ini mengandung bahan alami sunflower dan formula active provit amino yang sudah disempurnakan dengan teknologi Jepang. Hasilnya, setelah beberapa kali pakai, perubahan mulai terasa pada rambut saya. Rambut yang tadinya kering, kasar, dan kaku berangsur menjadi lembut, mudah diatur, dan lebih berkilau. Perkara stres rambut ini akhirnya mulai terobati karena perawatan rambut alami dari Emeron. Saat bangun tidur, nggak perlu keingetan rambut yang kasar dan kaku, karena kini sudah lebih halus dan lembut.

IMG_0144
Emeron Complete Hair Care. Saya pilih Emeron Soft & Smooth untuk perawatan alami rambut kasar dan kaku.

Ah, leganya. Rambut kembali sehat dan lembab berkilau. Karena sudah coba Emeron untuk perawatan rambut saya, jadinya saya bisa lebih nyaman menjalani aktivitas. Ngurus rumah tangga, berbisnis, dan tetap menulis. Fokus bekerja tanpa perlu memikirkan rambut yang kasar dan kaku. Terima kasih Emeron Complete Hair Care!

Advertisements

Lebih Efektif, Efisien, dan #BeMoreProductive dengan Fitur Paket Meeting XWORK

Oleh: Riri Oktriani

Meeting. Meeting. Meeting. Apa Anda merasa tidak asing dengan kata yang satu ini? Barangkali begitu ya. Banyak dari kita sudah sangat akrab dengan aktivitas meeting atau rapat. Mau yang kerja kantoran, apalagi pengusaha. Bisa dibilang, rapat sudah jadi makanan sehari-hari. Meski di jurnal harian Anda selalu ada jadwal rapat dengan klien atau tim, jangan sampai merasa tidak bersemangat, sebab kurang semangat mengundang rasa malas yang akan menganggu produktivitas kerja Anda!

Nah, menjalani meeting yang nyaman dan bersemangat itu sangat penting. Karena, hal tersebut dapat menunjang kesuksesan meeting Anda bersama klien. Boleh disimak beberapa tips singkat untuk Anda yang hendak menjalani meeting dengan nyaman dan sukses.

Jurnal_Blog_Tips_Sukses_Meeting_dengan_Klien_dan_Calon_Klien-01
Meeting nyaman dan bersemangat bersama klien. Sumber foto: Jurnal.id
  1. Siapkan Materi Meeting dengan Jelas

Di awal berkomunikasi dengan klien, Anda pasti sudah membicarakan sekilas perihal topik yang akan dibahas saat meeting nanti. Tentunya, ada hal-hal yang perlu Anda persiapkan mengenai topik meeting tersebut. Tidak ada salahnya untuk menyiapkan materi presentasi, bisa berupa power point, yang berisi poin-poin utama materi yang ingin Anda sampaikan pada klien. Memang terkesan biasa ya. Hanya saja, perlu Anda ketahui tidak perlu berpanjang-panjang membuat materi power point, sebab yang utama adalah penjelasan Anda. Jadikan power point hanya sebagai media penunjang presentasi Anda.

Karenanya, persiapkanlah hal lain yang bisa mendukung materi Anda. Misalnya, jika klien ingin melakukan custom order pembuatan rak buku sekolah pada perusahaan furnitur Anda, bawalah katalog produk terbaru dan sample beragam jenis kayu yang tersedia pada perusahaan Anda yang sudah di-finishing. Bawanya sample ya, bukan kayu gelonggongan lho. Sebagai contoh, Anda bisa menyiapkan sample kayu ini berupa potongan-potongan kubus yang sudah melalui proses finishing akhir.

Jika sudah ada katalog produk, apa pentingnya ya sample kayu ini? Sering, meskipun sudah memberikan katalog terbaru dengan foto dan dekskripsi produk yang jelas, klien masih suka bertanya soal perbedaan jenis kayu yang ada. Dengan membawa sample ini Anda akan lebih mudah menjelaskan pada klien soal rasa penasarannya dengan produk Anda. Klien dapat memegang, menyentuh, dan melihat langsung kayu berkualitas yang Anda punya dengan harapan tertarik untuk mampir berkunjung ke workshop Anda. Bukan tidak mungkin kan, klien bisa langsung order saat berada di workshop Anda hanya karena saat meeting Anda membawa sample kayu berkualitas. Silakan sesuaikan ya, apa yang harus Anda persiapkan saat akan meeting nanti dengan kondisi Anda.

Intinya, persiapkan diri Anda untuk menghadapi klien yang berbagai macam rupa dan keinginannya.

  1. Diskusi, Bukan Hanya Presentasi

Saat Anda memaparkan presentasi Anda, cobalah sesekali selingi dengan memberi pertanyaan pada klien Anda mengenai materi yang sedang dibahas. Sehingga yang terjadi ketika meeting bukan hanya sekadar presentasi, tetapi juga diskusi atau dialog. Misalnya—menyambung contoh sebelumnya ya—saat memperlihatkan produk rak buku yang perusahaan Anda pernah buat, Anda bisa bertanya, “Kira-kira, sudah ada desain belum Pak, untuk rak buku yang ingin dibuat?” Bukan tidak mungkin Anda bisa merekomendasikan desain baru pada klien yang barangkali belum ada di katalog produk perusahaan. Jadi, saat meeting Anda tidak melulu presentasi. Tumbuhkan rasa ingin tahu Anda terhadap keinginan klien. Terkadang, tidak semua klien bisa mendeskripsikan dengan rinci mengenai keinginannya. Dengan bertanya, Anda telah menunjukkan bahwa Anda bisa membantu klien menemukan solusi.

 

664xauto-jadwal-meeting-padat-jaga-energi-tubuh-171016s
Diskusikan materi meeting dengan klien, bukan hanya presentasi. Sumber foto: Dream.co.id
  1. Pilih Tempat yang Tepat

Pemilihan tempat juga menjadi faktor lain yang bisa mendukung kenyamanan dan kesuksesan meeting Anda. Suasana ruangan yang segar atau tempat baru yang belum pernah dikunjungi klien bisa memberikan kesan positif bagi klien. Maksimalkan yang terbaik dari Anda untuk meeting bersama klien. Jika kondisi kantor atau ruang workshop Anda belum memungkinkan untuk melakukan meeting dengan nyaman, banyak tempat yang dapat Anda cari untuk mewujudkan hal tersebut. Seperti outdoor cafe atau ruangan tertentu di hotel ternama. Bangun mood meeting Anda dan klien mulai dari tempat meeting!

  1. Manjakan Klien dengan Dinner atau Lunch Bersama

Bisa dipastikan, Anda sulit untuk menentukan berapa lama waktu meeting yang Anda lakukan bersama klien. Pagi-pagi meeting, bisa jadi menuju siang belum juga kelar. Sore-sore bertemu klien, sampai malam menjelang belum juga selesai. Namanya juga rapat. Bisa berlangsung cepat dan tidak terduga, atau malah alot tarik ulur. Menghadapi kondisi yang belum pasti, tidak ada salahnya Anda berinisiasi untuk mengajak klien makan bersama. Entah itu dinner atau lunch time. Ngopi bareng? Boleh juga. Saat bertemu sekalipun, Anda tidak harus langsung ngobrol pokok pembicaraan meeting. Anda bisa membangun obrolan santai terlebih dahulu saat makan bersama. Ketika suasana sudah cair dan rileks maka meeting pun bisa terlaksana dengan nyaman dan lancar.

Ada cara yang cukup mudah untuk menjangkau tempat meeting yang tepat yang juga menyediakan fasilitas lunch, dinner, dan coffee break. Anda bisa mendapatkan beragam rekomendasi tempat meeting strategis melalui XWORK. Hanya dengan mengunduh aplikasi XWORK di App Store atau Play Store dari ponsel, Anda sudah dapat mencari 1.200 lebih ruangan yang siap sewa di seluruh kota-kota besar di Indonesia, untuk memfasilitasi kebutuhan meeting Anda bersama klien. Khusus bagi Anda yang ingin agar meeting dapat sekaligus mengajak klien makan bersama, XWORK menyediakan fitur baru yaitu “Paket Meeting” yang memungkinkan Anda menyewa ruangan berikut menu makan yang terdapat di tempat tersebut.

1513_1522839733.6.lg
Salah satu rekomendasi Paket Meeting di XWORK. Pingoo Jakarta Aquarium.

Secara spesifik, XWORK adalah marketplace penyedia jasa sewa beragam ruangan dengan jangkauan wilayah yang luas di seluruh Indonesia. Mulai dari wilayah Jabodetabek, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Bali, Palangkaraya, Padang, Lampung, Makassar, hingga Papua. Selain cakupan wilayahnya yang luas, proses penyewaan ruangan di XWORK begitu cepat dan mudah. Sesaat setelah booking dan transfer biaya sewa ruangan, Anda sudah dapat menggunakan ruangan yang Anda butuhkan. Adapun keuntungan lain saat Anda menyewa ruangan melalui XWORK, yaitu:

  • Transaksi pembayaran aman dengan SSL system
  • Waktu booking bisa kapan saja atau real-time (24/7)
  • Tidak ada tambahan harga saat menyewa karena sudah termasuk pajak.
1587_1522903378.11.lg
Coba Paket Meeting XWORK dengan booking Theater Area Jakarta Aquarium.

Penasaran dengan Paket Meeting dari XWORK? Berikut ini beberapa rekomendasi Paket Meeting strategis dari XWORK:

  • Pingoo Jakarta Aquarium Indonesia dengan harga mulai dari Rp 169.000 per pax.
  • Theater Area Jakarta Aquarium Indonesia dengan harga mulai dari Rp 245.300 per pax.
  • Sangata Room di Blue Sky Pandurata Boutique Hotel dengan harga mulai dari Rp 70.000 per pax.
  • Function Hall di Hotel Amaroossa Bandung dengan harga mulai dari Rp 87.500 per pax.

Fitur Paket Meeting dari XWORK ini memudahkan Anda untuk memilih tempat strategis untuk meeting tanpa repot harus melakukan booking atau order makanan secara terpisah. Tinggal sesuaikan dengan budget, Anda sudah dapat meeting dengan nyaman, perut kenyang, dan lebih fresh bersama klien. Kalau sudah begini, meeting pun rasanya lebih efekif dan efisien. Hemat waktu dan biaya. Karenanya, semangat untuk terus produktif bisa lebih terjaga.

Meeting lagi. Meeting terus. Semangat kerja jangan sampai tergerus ya.

BlogCompetition_Revisi

Berdaya dan #BeMoreProductive dengan Fasilitas Ruang Meeting di XWORK

Oleh: Riri Oktriani

Bagi sebagian besar orang, menjadi produktif adalah suatu kebutuhan. Hal ini bisa disebabkan bukan hanya karena tuntutan hidup, tetapi juga karena kepuasan batin. Kepuasan itu muncul karena mereka merasa dirinya bisa bermanfaat untuk orang lain. Selain itu, kepuasan tersebut juga bisa dirasakan karena dirinya dapat menjawab tantangan dan memenuhi impiannya sebagai individu. Sudah tentu, hal ini adalah kebanggaan. Terlebih lagi, dengan adanya pengakuan dari orang terdekat maupun kolega kerja atas apa yang telah diraih karena produktivitasnya yang terjaga. Bisa dikatakan, hal ini akan semakin memacu mereka untuk terus menebar manfaat dengan selalu produktif.

jenis-cuaca-ternyata-pengaruhi-produktivitas-kerja-ini-buktinya-0pa9SUeybf
Menjaga semangat produktivitas kerja. Sumber ilustrasi: Okezone.com

Bahkan, bagi mereka yang terus produktif dan memberi inspirasi hingga usia senja, biasanya akan memperoleh penghargaan sosial yang tinggi baik dari keluarga maupun lingkungannya. Namun, menjaga semangat produktivitas itu bukanlah hal yang mudah. Seorang karyawan perusahaan bisa menjadi turun semangat kerjanya karena jenuh atas rutinitas pekerjaan. Atau, Seorang pengusaha muda dapat menjadi drop energinya karena lepas fokus dari tujuan utamanya membangun usaha. Jika hal ini dibiarkan begitu saja dan berlarut-larut bukan tidak mungkin akan timbul rasa malas yang menghambat produktivitas. Hal-hal yang dapat menurunkan semangat produktivitas bisa dirangkum dalam poin-poin berikut ini:

  • Jenuh atau bosan
  • Tidak ada tantangan kerja
  • Tidak paham tujuan atau keinginan
  • Kurangnya fasilitas penunjang yang membentuk suasana kerja yang nyaman.
664xauto-3-cara-tingkatkan-produktivitas-ala-miliarder-1708219
Mengapa produktivitas kerja menurun? Sumber ilustrasi: dream.co.id

Fasilitas yang memadai memang dibutuhkan untuk menunjang produktivitas kerja. Misalnya saja, ketika Anda akan mengadakan rapat dibutuhkan ruangan yang dapat memberikan kenyamanan dan menstimulasi semangat. Terlebih jika rapat bersama klien. Memberikan suasana rapat yang nyaman kepada klien tentunya dapat membuat klien bersimpati bahwa Anda telah maksimal memberikan yang terbaik. Tetapi, jika ruang kantor Anda terbatas dan khawatir tidak dapat melayani klien dengan optimal maka tidak ada salahnya untuk menyewa ruang rapat di luar kantor. Gadget atau smartphone yang Anda miliki dapat dimanfaatkan untuk mencari ketersediaan ruang rapat yang dapat disewa kapanpun Anda membutuhkannya.

27540379_1560854200636007_399319744848722348_n
XWORK, marketplace sewa ruangan di seluruh Indonesia. 

Cobalah XWORK. Hanya dengan mengunduh aplikasi XWORK di App Store atau Google Play Store Anda dapat dengan mudah dan cepat mencari ruang meeting yang availabe menyesuaikan dengan kebutuhan kapasitas orang dan budget Anda. Terdapat 753 ruang meeting yang tersedia di XWORK yang tersebar di kota-kota besar di seluruh Indonesia. Mulai dari Jakarta, Tangerang, Bekasi, Bogor, Bandung, Semarang, Surabaya, Padang, Lampung, Palembang, Makassar, hingga Papua. Sebagai contoh, berikut ini beberapa ruang meeting yang dapat Anda sewa di XWORK:

  • Parang – Kedasi @ The Cause di Graha Niaga Thamrin yang berkapasitas 16 orang dengan harga sewa Rp 120.000,- per jam.
  • Lasem – Kedasi @ The Cause di Graha Niaga Thamrin yang berkapasitas 20 orang dengan harga sewa Rp 150.000,- per jam.
  • Multivision Tower yang berkapasitas 8 orang dengan harga sewa Rp 300.000,- per jam.
  • Lily Meeting Room di Canteen Bintaro yang berkapasitas 4 orang dengan harga sewa Rp 75.000,- per jam.
  • Meeting Space 2 di Kubik Coworking Space Padang yang berkapasitas 5 orang dengan harga sewa Rp 50.000,- per jam.

XWORK sendiri adalah marketplace yang khusus menyediakan jasa penyewaan berbagai ruangan untuk keperluan Anda, mulai dari ruang meeting, ruang kantor, ruang acara, co-working space, dan virtual office yang cakupan wilayahnya tersebar di seluruh Indonesia. Terdapat kurang lebih 1.200 ruangan siap sewa yang memungkinkan Anda lebih mudah untuk mencari ruangan yang pas sesuai dengan kebutuhan. Proses booking dapat Anda lakukan dengan mudah melalui aplikasi XWORK dan dilakukan secara real time. Kelebihan lain yang dapat Anda temukan di XWORK yaitu transaksi pembayaran yang aman dengan SSL System dan harga sewa yang Anda bayar sudah termasuk pajak sehingga tidak ada biaya tambahan lainnya.

Apex-2-XWORK-Premium.1488771125.367.ori_-768x512
Apex 2, salah satu ruang meeting yang tersedia di XWORK di Slipi, Jakarta Barat.

Keterbatasan fasilitas yang Anda alami dapat mendorong Anda untuk lebih kreatif. Kreatif mencari solusi yang cepat dan mudah bersama layanan XWORK. Rapat bersama klien menjadi lebih percaya diri karena ruang meeting yang nyaman. Hal ini tentunya dapat mendukung Anda lebih maksimal saat persentasi yang dapat menambah kepercayaan klien kepada perusahaan atau tim Anda. Sepertinya, tidak ada alasan lagi untuk tidak bersemangat menebar manfaat. Jadilah semakin berdaya dan produktif bersama XWORK.

BlogCompetition_Square-1

Berani #BeMoreProductive bersama XWORK

Oleh: Riri Oktriani

Hampir setiap orang pernah mengalami stres dalam hidupnya. Entah itu karena deadline pekerjaan, masalah keluarga, atau karena tekanan rutinitas harian yang terlalu padat. Stres bisa menghampiri para karyawan perusahan baik dari level bawah hingga top management-nya. Banyak pengusaha muda yang mengalami stres ketika membangun usaha atau mengelola online shop mereka dari titik nol. Tak terkecuali para ibu rumah tangga yang bisa stres saat melulu berkutat dengan pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak seharian. Sedikit tambahan informasi bagi Anda, terdapat beberapa jenis pekerjaan yang memiliki tingkat stres tinggi, seperti jurnalis, pilot, dan akuntan eksekutif. Barangkali Anda termasuk salah satunya.

Tak dapat dipungkiri bahwa amat sulit menghindari stres. Sebab, stres selalu ada terutama bagi manusia di usia produktif. Stres bisa menjadi penyakit jika tidak dihadapi dan dikelola dengan tepat. Bayangkan, produktivitas Anda dalam menjalani peran menjadi terganggu hanya karena tidak dapat rileks dan merasa selalu stres. Buntutnya, bisa jadi gara-gara stres berlebihan Anda tidak bisa memenuhi target perusahaan, usaha sulit berkembang, atau bahkan Anda—yang ibu rumah tangga—tidak dapat menggali potensi dan menekuni hobi yang diinginkan.

Intinya, apapun profesi yang Anda jalani, apapun pekerjaannya, akan selalu ada tekanan dan stres. Oleh karena itu, Anda harus mencoba dan mulai menghadapi stres Anda dengan tenang. Bagaimana caranya? Berikut ini beberapa langkah asyik yang dapat Anda lakukan untuk menghadapi dan mengelola stres.

  1. Lakukan Olah Pernapasan

Ketika Anda merasa terburu-buru atau dikejar waktu, seringnya Anda akan sulit untuk berpikir dengan lebih jernih dan terbuka. Sementara penunjang produktivitas seseorang salah satunya adalah kemampuan untuk selalu fokus dalam berpikir dan bertindak. Jika Anda sudah merasa sulit fokus, tidak ada ide, atau energi menjadi drop cobalah untuk diam sejenak. Tutup kedua mata Anda dan tariklah napas yang dalam, kemudian keluarkan secara perlahan. Lakukan hal ini berulang-ulang selama setengah sampai satu menit. Cara ini bisa efektif untuk mengembalikan mood dan me-refresh energi Anda. Sebab, oksigen yang Anda alirkan ke otak menjadi lebih maksimal dan teratur.

  1. Rehatkan Mata Sejenak

Menatap komputer atau smartphone terlalu lama sudah tentu akan membuat mata Anda lelah dan perih. Tidak perlu merasa membuang waktu untuk beranjak dari ruangan kubus Anda dan sedikit memanjakan mata dengan melihat pemandangan luar. Bantu istirahatkan otot-otot mata dan tubuh Anda yang kaku dan penat. Dengan langkah ini, stres dapat berkurang secara perlahan.

  1. Cobalah Senam atau Peregangan Ringan

Setelah Anda beranjak dari luar ruangan kantor, sembari menikmati pemandangan luar coba lakukan senam atau peregangan ringan. Peregangan tubuh ini nantinya akan membantu melemaskan otot-otot tubuh. Anda dapat memutar-putarkan leher secara perlahan, merentangkan kedua tangan, menarik otot kaki ke belakang maupun ke depan, atau beragam gerakan peregangan sederhana lainnya. Nantinya, selain melemaskan otot-otot tubuh yang kaku, langkah ini membantu tubuh menjadi lebih rileks sehingga tingkat stres yang dialami tubuh menjadi turun.

  1. Tambah Energi dengan Secangkir Kopi atau Teh

Sudah umum diketahui bahwa kadar kafein yang terdapat dalam kopi dan teh dapat membuat tubuh kembali segar dengan cepat. Kafein membantu darah mengalir lebih cepat sehingga suplai oksigen ke otak menjadi maksimal. Tidak ada salahnya mencoba langkah yang satu ini untuk membantu mengurangi stres yang tengah Anda hadapi.

  1. Cari Suasana Baru untuk Bekerja

Ruang kubus lagi.. ruang kubus lagi. Kalau sudah begini yang ada di pikiran Anda, besar kemungkinan Anda sedang bosan dengan suasana ruangan kantor. Kebosanan jika dibiarkan akan mematikan ide-ide dan menurunkan produktivitas. Anda bisa menjadi malas karena rasa bosan ini. Jika Anda sudah mencoba mempraktikkan langkah-langkah di atas namun tidak menemukan hasil yang berarti, tidak ada salahnya mencari alternatif lain dengan menciptakan suasana baru untuk bekerja. Cobalah untuk menyewa ruangan di luar kantor yang dapat mendukung kenyamanan Anda ketika bekerja. Anda dapat mengondisikan untuk bekerja bersama tim di luar kantor dengan menyewa ruangan tertentu yang lebih cozy. Nah, perihal sewa ruangan dengan proses booking yang cepat, mudah, dan terpercaya, XWORK adalah jawabannya.

BlogCompetition_Square-1

XWORK merupakan penyedia jasa sewa ruangan mulai dari ruang meeting, ruang kantor, co-working space, ruang acara, hingga virtual office yang tersebar di kota-kota besar di seluruh Indonesia. Bisa Anda bayangkan, terdapat kurang lebih 1.200 ruang yang siap disewa menyesuaikan dengan kebutuhan Anda. Proses booking ruangan cepat dan mudah melalui aplikasi smartphone yang dapat diunduh di App Store atau Google Play Store. Selain itu, XWORK menjamin keamanan dan kenyamanan transaksi pembayaran Anda dengan SSL system. Jasa XWORK begitu mudah diakses hanya dengan jari Anda, sebab Anda dapat mencari dan reservasi ruangan yang Anda butuhkan secara real time (24/7) tanpa ada batasan waktu. Sementara harga yang ditawarkan XWORK sendiri sudah include dengan pajak dan Anda dipastikan tidak dikenakan biaya tambahan lain saat melakukan booking ruangan melalui aplikasi XWORK.

Berikut ini beberapa sebaran kota-kota besar di Indonesia yang penyewaan ruangannya dapat dijangkau melalui XWORK:

  • Jakarta, Tangerang, Bekasi, Bogor
  • Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya
  • Bali
  • Padang, Lampung, Palembang
  • Palangkaraya
  • Makassar, Manado
  • Papua
kamal-muara-768x432
Kamal Muara, salah satu ruang kantor yang dapat disewa melalui XWORK.

Dalam ketersediannya, sebagai contoh terdapat 298 ruang kantor yang dapat Anda sewa dari XWORK dengan range harga yang beragam. Berikut ini beberapa detail harga dan kapasitas ruang kantor yang tersedia di XWORK yang dapat menjadi pilihan Anda:

  • Ruang Kantor di Eighty8 Office Tower, dengan harga Rp 130.000 per jam, berkapasitas 4 orang.
  • Ruang Kantor di Kedasi Co-Working Space Tomang, dengan harga Rp 6.000.000 per bulan, berkapasitas 4 orang.
  • Ruang Kantor di CBC Gallery, dengan harga Rp 1.320.000 per bulan, berkapasitas 1 orang.
Kinosaurus-Kemang-Jakarta.1499915419.987.ori_-768x507
Kinosaurus, ruang sewa kantor ini terletak di wilayah Kemang, Jakarta. Tertarik untuk menyewa? Cek segera di aplikasi XWORK.

Ruangan-ruangan yang disediakan oleh XWORK dapat menjadi solusi yang Anda cari ketika:

  • Bosan dengan suasana kantor
  • Kebutuhan untuk persentasi pada klien
  • Menciptakan suasana kerja yang lebih fresh bersama tim Anda
  • Anda ingin mengadakan gathering event dengan konsep yang berbeda.

Jika Anda dan tim bisa menjadi lebih produktif  bersama jasa dari XWORK, mengapa tidak? Semangat produktivitas yang terjaga akan membuat Anda dapat memenuhi target-target kolektif atau pribadi, mempercepat perkembangan usaha mandiri yang sedang Anda bangun, atau memaksimalkan potensi dan minat Anda sehingga lebih menghasilkan. Jadi, apa Anda berani lebih produktif bersama XWORK?

Cuplikan Terjemahan Buku “Ayurveda—The Divine Science of Life” Bagian 2

Setelah sebelumnya saya mem-posting bagian pertama terjemahan teks mengenai Ayurveda karya Todd Caldecott, berikut ini saya membagi kepada pengunjung dan pembaca hasil terjemahan saya selanjutnya. Tentunya masih dengan sumber teks yang sama. Semoga bermanfaat.

Identitas Buku

Judul              : Ayurveda—The Divine Science of Live

Penulis          : Todd Caldecott

Penerbit         : Mosby Elsevier

Tahun Terbit : 2006

ISBN               : 10 0-723-43410-7

13 978-0-7234-3410-8

Preface

The genesis of the present work began in 1992 after I returned from my first trip to India and West Asia, where I spent a year travelling overland from Sri Lanka to Western Turkey on only a few dollars a day. After several months of staying in the cheapest guest houses and eating at roadside stalls I unfortunately contracted a very serious case of dysentery that I only partially recovered from when I spent a month among the Hunza people in Northern Pakistan.

Upon my return to Canada I sought treatment for what was now a chronic digestive disorder, and after undergoing a variety of treatments, including naturopathic and homeopathic medicine, finally received relief under the care of Ayurvedic physician Dr T. Sukumaran. The wise counsel given to me by the Kerala-born Dr Sukumaran impressed me greatly, and incited a passion to learn all I could about Ayurveda.

Although there were some good texts available at the time, there were none I found that could deepen my interest in Ayurveda. During this time I enrolled in a 3-year clinical programme in Western herbal medicine, and continued to study Ayurveda with Dr Sukumaran as well as other teachers.

When I completed my studies in Western herbal medicine my thirst for Ayurveda remained unquenched, and in 1996 I left for India with my pregnant wife and 1-year-old son where I studied at the Arya Vaidya Chikitsalayam in Coimbatore, India.

Here I not only had the opportunity to study under the venerable Dr V. Vasudevan, but other Ayurvedic physicians as well, sitting with them in clinic and in the hospital, observing the skills they used in assessment and treatment. While I was India I began to synthesise all of this wonderful knowledge I had learned into the framework of a text that would serve as the kind of reference text I had sought a few years earlier.

After the happy birth of my second son in India, my family and I returned to Canada where I opened a clinical practice, using my skills as a Western herbal and Ayurvedic practitioner. I continued to work on the text, and made a significant investment to acquire English translations of all the classical Ayurvedic texts available, as well as texts on Indian botany, which I digested with a voracious appetite.

In 1999 I relocated to Calgary, Alberta, and in addition to seeing patients began to offer an introductory course in Ayurvedic medicine at the Wild Rose College of Natural Healing. In 2001 I became the Director of Clinical Herbal studies at Wild Rose College, where I developed a 3-year clinical programme in Western herbal medicine. During this time I continued to work on my text, rewriting large sections of the book and adding the appendices found in the current version, and converted all the Sanskrit terms into Unicode-compatible diacritical format.

Although the present text is far from perfect, I believe that the almost 10 years I have spent working on it has come close to my original vision. It is my sincerest hope that this text is worthy of the serious student of the divine science that is Ayurveda.

Todd Caldecott

Vancouver, BC, Canada, 2005

Hasil terjemahan saya:

Pendahuluan

Karya ini bermula pada tahun 1992 setelah saya kembali dari perjalanan pertama saya ke India dan Asia Barat, di mana saya menghabiskan satu tahun melakukan perjalanan darat dari Sri Lanka ke barat Turki hanya dengan bermodalkan beberapa dolar per hari. Setelah beberapa bulan tinggal di penginapan termurah dan makan di warung kaki lima, sayangnya saya mengidap penyakit disentri yang sangat serius dan saya merasa belum terlalu pulih sewaktu saya menghabiskan satu bulan berada di antara masyarakat Hunza di selatan Pakistan.

Sekembalinya ke Kanada, saya mencari pengobatan untuk penyakit yang kini disebut gangguan pencernaan kronis, dan setelah menjalani berbagai macam pengobatan, termasuk ilmu pengobatan naturopati (naturopathic[1]) dan homeopati (homeopathic[2]), akhirnya saya menerima bantuan di bawah perawatan dokter Āyurvedik, Dr. T. Sukumaran. Nasehat bijak yang sungguh mengesankan diberikan oleh Dr. Sukumaran yang dilahirkan di Kerala[3], dan membangkitkan gairah untuk mempelajari segala sesuatu tentang Āyurveda.

[1] Merupakan perawatan kesehatan yang menekankan pada pencegahan, pengobatan, dan pengoptimalan kesehatan melalui metode dan bahan-bahan yang bersifat mengobati yang nantinya mendorong individu untuk melakukan proses penyembuhan mandiri (self-healing). Praktik ilmu pengobatan naturopati meliputi metode modern dan tradisional, ilmiah, serta empiris. *Definisi disari dari situs resmi The American Association of Naturopathic Physicians. –penerj.

[2] Merupakan bentuk pengobatan dengan prinsip “serupa dapat menyembuhkan serupa” (like cures like) yang telah dikembangkan di Eropa sejak akhir tahun 1700. Terapi pengobatannya dilakukan dengan mengonsumsi obat yang diramu dari bahan alam setelah melalui proses pengenceran. –penerj.

[3] Salah satu negara bagian di Selatan India.

Meskipun saat itu banyak tersedia referensi teks yang bagus, sayangnya tidak satu pun yang saya temukan dapat memperdalam minat saya tentang Āyurveda. Pada masa itu, saya mendaftarkan diri dalam program klinis tiga tahun di Ilmu Pengobatan Herbal Barat, dan melanjutkan untuk mempelajari Āyurveda dengan Dr. Sukumaran sebagaimana pengajar lainnya.

Setelah saya menyelesaikan masa studi di Ilmu Pengobatan Herbal Barat, dahaga saya mengenai Āyurveda tetap membara, hingga pada tahun 1996 saya berangkat ke India, bersama istri saya yang tengah hamil dan putra saya yang berumur satu tahun, di mana saya belajar di Arya Vaidya Chikitsalayam di Coimbatore, India.

Di sini, saya tidak hanya mendapat kesempatan untuk belajar bersama Dr. V. Vasudevan yang terhormat, tetapi juga dengan dokter Āyurvedik lainnya, duduk bersama dengan mereka di klinik dan rumah sakit, mengobservasi keahlian yang mereka terapkan dalam melakukan penaksiran dan pengobatan. Ketika saya masih tinggal di sana, saya mulai mempersatukan seluruh pengetahuan yang mengagumkan yang telah saya pelajari ini, menjadi kerangka teks yang akan berfungsi sebagai referensi teks yang pernah saya cari beberapa tahun sebelumnya.

Setelah sukacita kelahiran putra kedua saya di India, saya sekeluarga kembali ke Kanada di mana kemudian saya membuka praktik klinis, mengaplikasikan keahlian saya sebagai seorang herbalis Barat dan praktisi Āyurvedik. Saya tetap melanjutkan penulisan teks buku ini, dan melakukan investasi yang penting untuk memperoleh seluruh teks klasik mengenai Āyurveda dalam terjemahan berbahasa Inggris, dan juga teks-teks botani India, yang saya selami isinya dengan lahap dan amat berselera.

Pada tahun 1999 saya pindah ke Calgary[1], Alberta. Di sana, disamping melihat pasien, saya juga mulai menawarkan kuliah pengantar pengobatan Āyurvedik di Wild Rose College of Natural Healing. Kemudian, pada tahun 2001 saya menjadi Direktur Studi Herbal Klinis di Wild Rose College, di mana saya mengembangkan program klinis tiga tahun yang sebelumnya telah saya jalani di Ilmu Pengobatan Herbal Barat. Di masa ini saya terus melanjutkan penulisan teks buku saya, menulis kembali bagian-bagian besarnya dan menambahkan lampiran-lampiran yang ditemukan dalam versi sekarang, dan mengkonversikan seluruh istilah bahasa Sanksekerta ke dalam format diakritikal[2] Unicode[3] yang sesuai.

Walaupun teks ini masih jauh dari sempurna, saya percaya bahwa hampir 10 tahun saya mengerjakannya, buku ini sudah dekat menuju yang saya impikan. Tentunya, menjadi harapan setulus hati saya bahwa buku ini layak bagi pelajar yang sungguh-sungguh untuk mempelajari ilmu pengetahuan kehidupan yaitu Āyurveda.

Todd Caldecott

Vancouver, BC, Kanada, 2005

[1] Salah satu kota di Provinsi Alberta, Kanada.

[2] Tanda pengenal atau Istilah untuk tanda yang melekat pada suatu huruf, bisa berupa titik, garis, dsb.

[3] Merupakan standar pengkodean internasional yang memungkinkan berbagai teks maupun simbol dari seluruh dunia ditampilkan oleh komputer. –penerj.

Cuplikan Terjemahan Buku “Ayurveda—The Divine Science of Life” Bagian 1

Para pengunjung dan pembaca sekalian, berikut ini adalah proyek kecil personal yang saya kerjakan beberapa bulan yang lalu. Saya mencoba menerjemahkan sebuah teks bertema pengobatan yang teksnya sendiri saya dapatkan dari seorang teman yang sedang berkuliah di bidang Farmasi Herbal. Keseluruhannya, saya terjemahkan sebanyak satu bab. Tapi, sebagai permulaan kepada pembaca, saya bagikan bagian per bagian karena teksnya panjang sekali jika saya posting sekaligus.

Sebelumnya, saya pribadi tidak bermotif untuk melanggar hak cipta penulis buku ini, karena telah berinisiasi menerjemahkan bagian kecil karyanya dan membaginya dengan bebas kepada pembaca sekalian. Tujuan saya hanya menjadikan teks ini sebagai wadah latihan penerjemahan bagi diri saya sendiri. Jika kemudian, ada diantara pengunjung dan pembaca yang tertarik untuk berdiskusi dan merespons lebih lanjut mengenai hasil terjemahan ini, saya sepenuhnya terbuka.

Semoga terjemahan yang saya posting kali ini menjadi manfaat bagi pembaca semua. Terima kasih.

51OJRfWid4L._SX258_BO1,204,203,200_

 

Identitas Buku

Judul              : Ayurveda—The Divine Science of Live

Penulis          : Todd Caldecott

Penerbit         : Mosby Elsevier

Tahun Terbit : 2006

ISBN               : 10 0-723-43410-7

13 978-0-7234-3410-8

Foreword

The two oldest extant and expounded systems of traditional medicine are East Indian Traditional Medicine, known as Ayurveda and dating back five to ten thousand years, and Traditional China Medicine (TCM) whose history arguably is known to extend as much as 5.000 years into antiquity. While Western medicine owes its origins to the Egyptian, Greek, Roman, and Arabic cultures, it has been hopelessly fragmented several times over the last 2.000 years due to the disintegration of the Roman Empire, then the early suppression by the church of any physical healing methods, and more recently, the development of pharmaceutical drugs.

It has been argued that Ayurveda is the basis for traditional Tibetan Medicine, TCM and later Greek, Roman and Arabic (or Unani) medicines. All these traditional healing methods share a common unified body-mind-spirit orientation, meaning that disease and health are the result of the interaction of all three aspects of being. As well, all of them are energetic medicines based on their heating and cooling energies, for instance, of food, herbs, diseases and constitutions.

Just as there is a close relationship between Chinese martial arts and related physical disciplines and Traditional Chinese Medicine (TCM), there is also a healing relationship between the disciplines of yoga and Ayurveda. Today yoga continues to grow in popularity as it is increasingly accepted into the mainstream of the West. During the 1970s some of these same spiritual Indian teachers bringing yoga to the West were also responsible for introducing Ayurveda.

Because Ayurveda was first introduced by spiritual teachers along with other intended moral practices such as vegetarianism, it is seen by many as a harmonious system of medical support for vegetarianism rather than the distinct holistic healing system that it truly is.

My personal introduction, in1974, was by Hari Das Baba who may have been one of the first teachers in the West, although Yogi Bhajan was another who informally taught Ayurveda to his followers. In 1980 the Maharishi, founder of Transcendental Meditation, began to popularise Ayurveda in the West and eventually incorporated a line of Ayurvedic products as I had done previously.

Since its introduction to the West, a number of Ayurvedics and Westerners trained in Ayurveda have conduced clinical practice, taught, written books and developed training courses in Ayurveda. One of the first was Robert Svoboda, then David Frawley, a westerner who took it upon himself to master Sanskrit and is now recognised throughout the world., including India, as one of the foremost Vedic scholars. The West owes a great debt to the dedicated and pioneering efforts of Dr. Vasant Ladd, an Indian medical doctor as well as Ayurvedic doctor. Now, the Canadian, Todd Caldecot, has created a milestone in the evolution of Ayurveda in the West through his years of teaching and now the authorship of this definitive book.

Apart from its association with spiritual and yogic practices, Ayurveda is as relevant today for all people throughout the world as it was when the first classic texts were compiled between the first and sixth centuries. Its recommendations and prescriptions are not limited to any single class of people, neither to any specific religious belief nor any particular dietary regime since its origin as elucidated in the classic texts predate Buddhist influence in India and include various animal parts for food and medicine.

Just as Sanskrit is considered a root language whose influence can be found in most of the languages of Europe, Ayurveda is known by some as ‘the mother of healing’. Because we live in a world where the wisdom of all people and times are at once available, it is possible to supplement the deficiencies of understanding

from one system of thought by looking through the prism of another. This means that semantic differences aside, aspects of Ayurveda–its theory, principles, herbs, therapies–are to be found in all major world healing systems.

Therefore, an understanding of Ayurvedic medicine is bound to enhance and deepen the understanding of a conventional Western medical doctor as well as a TCM practitioner. In fact many of the treatments and even the medicines used in Ayurveda are found in Western medicine, such as Rauwolfia serpentina for high blood pressure. In addition, a large number of herbs used in Ayurveda are also used as part of the medical armamentarium of both Western and Chinese herbalists.

As another example, the three body types (somatypes) developed by the psychologist William Sheldon (1898–1977) during the 1940s closely corresponds to one of the cornerstones of Ayurveda, called ‘tridosha’. The difference is that Sheldon only described and used the body types for their psychological temperament

while Ayurveda uses them as a cornerstone guiding lifestyle, dietary and treatment modality.

The author of this book has absorbed many of the dominant alternative healing systems known in the West and has chosen to specialise in the practice and

teaching of Ayurveda. For the Western student this means that much of the confusion between Western herbal medicine, scientific herbalism and TCM has been integrated by the author and the result is a text that is persuasive and immediately communicable to the Western mind without losing the flavour and integrity of its origin.

I have known Todd Caldecott as a colleague and respected professional member of the American Herbalists Guild (AHG) and have seen him grow in stature as one of the country’s leading herbalists and one who is able to bridge the divide between various systems of traditional medicine and Western medical science. His book offers a clear and comprehensive elucidation of Ayurveda that will guide the serious student in acquiring the skills needed to become an effective practitioner.

Michael Tierra

California, 2006

Hasil terjemahan saya:

Kata Pengantar

Dua sistem pengobatan tradisional tertua yang masih ada hingga saat ini dan terurai secara terperinci adalah Ilmu Pengobatan Tradisional India Timur, yang dikenal dengan Āyurveda dan telah muncul lima hingga 10.000 tahun yang lalu, dan Ilmu Pengobatan Tradisional Cina yang sejarahnya dapat dikatakan dikenal membentang sejak zaman kuno 5.000 tahun yang lalu. Sementara itu ilmu pengobatan Barat yang akar asal-usulnya berasal dari Mesir, Yunani, Romawi, dan budaya Arab, setengah mati berusaha bertahan karena telah terpecah belah beberapa kali pada hampir 2.000 tahun terakhir disebabkan oleh kehancuran Imperium Romawi, lalu penindasan awal gereja atas berbagai metode penyembuhan fisik, dan yang baru-baru ini, pengembangan obat-obatan farmasi.

Dapat dikatakan bahwa Āyurveda merupakan dasar untuk pengobatan tradisional Tibet, Cina, dan orang Yunani, Romawi, dan Arab (atau Unani[1]). Semua metode penyembuhan tradisional ini memberikan orientasi yang sama atas keterpaduan tubuh-pikiran-jiwa, artinya bahwa penyakit dan kesehatan adalah hasil interaksi dari tiga aspek tersebut.  Demikian juga, semua metode ini merupakan ilmu pengobatan aktif yang didasarkan pada energi panas dan dingin, contohnya energi dari makanan, macam-macam herba, penyakit, dan keadaan jasmani.

Sebagaimana terdapat hubungan erat antara ilmu bela diri Cina yang berkaitan dengan disiplin fisik dan Ilmu Pengobatan Tradisional Cina, begitu pula halnya dengan hubungan penyembuhan antara disiplin beryoga dan Āyurveda. Dewasa ini, yoga terus tumbuh populer selaras dengan meningkatnya penerimaan aktivitas ini ke dalam arus utama kehidupan Barat. Selama tahun 1970-an beberapa guru spiritual India yang sama membawa yoga ke dalam kehidupan Barat juga bertanggung jawab memperkenalkan ilmu Āyurveda.

Karena Āyurveda diperkenalkan pertama kali oleh guru spiritual bersamaan dengan kebiasaan batiniah lainnya yang juga diharapkan dapat terlaksana, seperti vegetarianisme, maka ilmu ini dilihat oleh banyak orang sebagai sistem yang harmonis dengan dukungan medis untuk para vegetarianisme dibandingkan dengan sistem penyembuhan holistik berbeda lainnya.

Perkenalan pribadi saya dengan ilmu ini yaitu pada tahun 1974, oleh guru bernama Hari Das Baba yang barangkali salah satu guru pertama Āyurveda di Barat, meskipun Yogi Bhajan adalah guru lainnya yang secara informal mengajarkan Āyurveda kepada para pengikutnya. Pada tahun 1980, Maharishi, pendiri Transcendental Meditation[2], mulai memopulerkan Āyurveda di Barat dan akhirnya tergabung ke dalam beragam produk Āyurvedik sebagaimana yang saya lakukan sebelumnya.

Sejak diperkenalkannya ke negara Barat, sejumlah Āyurvedik dan orang-orang Barat yang telah terlatih dalam Āyurveda mengadakan latihan klinis, pengajaran, penulisan buku dan mengembangkan kursus pelatihan tentang Āyurveda. Salah satu dari yang pertama itu adalah Robert Svoboda, lalu David Frawley, orang Barat yang mempelajari Āyurveda untuk menjadi ahli bahasa Sansekerta dan kini keahliannya diakui di seluruh dunia, termasuk India, sebagai salah satu sarjana Vedik yang terkemuka. Negara Barat berutang besar atas dedikasi dan usaha perintisan Dr. Vasant Ladd, seorang dokter medis yang juga dokter Āyurvedik asal India. Kini, seorang Kanada, Todd Caldecott, telah menciptakan sebuah kejadian penting dalam evolusi Āyurveda di negara Barat melalui tahun-tahunnya mengajar dan sekarang melalui kepengarangan sebuah buku yang definitif ini.

[1] Kata “Unani” berarti Yunani dalam bahasa Arab. Kata ini juga mengacu pada sistem penyembuhan tradisional yang lazim dipraktikkan di Timur Tengah, India, Pakistan, dan negara-negara tetangganya. Berdasarkan sistem penyembuhan ini, tubuh memliki empat elemen dasar: bumi/tanah, udara, air, dan api. Serta terdiri dari empat jenis cairan: darah (blood/dam), dahak (phlegm/balgham), empedu kuning (yellow bile/safra’), dan empedu hitam (black bile/sauda’). Keseimbangan dalam cairan ini mengindikasikan kesehatan, sementara gangguan keseimbangan ini akan menyebabkan penyakit. –penerj.

[2] Merupakan teknik meditasi yang diperkenalkan oleh guru spiritual India, Maharishi Mahesh Yogi, sejak tahun 1955 di berbagai belahan dunia, termasuk Amerika Serikat. Ia juga merupakan guru spiritual grup musik kenamaan asal Inggris, The Beatles, di akhir tahun 1960-an. Ia meninggal pada tahun 2008 yang lalu dan Transcendental Meditation telah menjadi organisasi nonprofit berbasis di Amerika Serikat. –penerj.

Terlepas dari asosiasinya dengan spiritual dan praktik yoga, dewasa ini Āyurveda jelas relevan bagi semua orang di seluruh dunia, sebagaimana ketika teks klasiknya yang pertama disusun sekitar abad pertama dan abad keenam. Rekomendasi dan resep pengobatan teks tersebut nyatanya tidak terbatas pada strata sosial tertentu, tidak juga pada kepercayaan atau agama tertentu, bahkan tidak pula terbatas pada aturan diet khusus sejak asal-usulnya diuraikan dalam teks klasik mendahului pengaruh penganut Buddha di India, dan termasuk juga berbagai bagian-bagian binatang yang dikonsumsi untuk makanan dan pengobatan.

Sebagaimana bahasa Sansekerta yang dianggap akar bahasa, di mana pengaruhnya dapat ditemukan hampir di seluruh bahasa di Eropa, Āyurveda dikenal oleh beberapa golongan sebagai “ibu penyembuh”. Disebabkan kita hidup di dunia di mana pengetahuan semua orang dan suatu masa tersedia sekaligus, maka sangat memungkinkan untuk melengkapi kekurangan atas pemahaman dari satu sistem pemikiran dengan melihat banyaknya perbedaan pemikiran lain. Ini artinya bahwa selain perbedaan semantik, aspek dari Āyurveda—mulai dari teori, prinsip, herba, hingga terapi—dapat ditemukan di seluruh sistem penyembuhan mayor di dunia.

Oleh karena itu, pemahaman tentang pengobatan Āyurvedik merupakan loncatan untuk mempertinggi dan memperdalam pemahaman seorang dokter konvensional Barat serta seorang praktisi Ilmu Pengobatan Tradisional Cina. Pada kenyataannya, banyak cara pengobatan dan bahkan obat-obatan yang digunakan dalam Āyurveda ditemukan juga dalam obat-obatan Barat, misalnya Rauwolfia serpentina, yang digunakan untuk penyakit tekanan darah tinggi. Ditambah lagi, sebagian besar herba yang digunakan dalam Āyurveda juga digunakan sebagai bagian dari armamentarium[1] medis untuk herbalis Barat dan Cina.

Sebagai contoh lain, tiga tipe bentuk tubuh (somatotypes[2]) yang dikembangkan oleh psikolog William Sheldon (1898 – 1977) selama tahun 1940-an sangat dekat hubungannya dengan salah satu landasan dalam Āyurveda yang disebut tridosha. Namun, perbedaannya adalah Sheldon hanya mendeskripsikan dan menggunakan tipe tubuh tersebut untuk penjelasan watak psikologis, sementara Āyurveda menggunakannya sebagai landasan yang memandu gaya hidup, pola makan, dan metode pengobatan.

Penulis buku ini telah menyerap banyak sistem penyembuhan alternatif terkemuka yang dikenal di negara Barat dan telah memilih untuk mengkhususkan diri dalam praktik dan pengajaran ilmu pengobatan Āyurveda. Bagi pelajar Barat ini artinya, banyak informasi antara pengobatan herbal Barat, herbalisme ilmiah, dan Ilmu Pengobatan Tradisional Cina yang telah diintegrasikan oleh penulis dan hasilnya adalah sebuah teks yang persuasif dan dengan cepat menular ke dalam pemikiran Barat tanpa kehilangan rasa dan integritas dari asalnya.

Saya mengenal Todd Caldecott sebagai kolega dan seorang profesional yang dihormati di organisasi American Herbalist Guild (AHG) dan telah melihatnya tumbuh terkenal sebagai salah satu herbalis terkemuka di negaranya dan salah satu orang yang mampu untuk menjembatani pembagian antara berbagai sistem pengobatan tradisional  dan ilmu medis ilmiah Barat. Bukunya ini menawarkan uraian yang jelas dan komprehensif tentang Āyurveda yang akan memandu pelajar yang sungguh-sungguh dalam memperoleh keahlian yang dibutuhkan untuk menjadi seorang praktisi yang berhasil.

Michael Tierra

California, 2006

[1] Istilah “Armamentarium” diartikan sebagai segala hal yang melingkupi aspek obat-obatan, peralatan, dan teknik pengobatan dalam kaitannya bagi seorang praktisi medis. Dalam konteks di atas, armamentarium mengacu pada obat-obatan. –penerj.

[2] William Sheldon mengobservasi manusia dengan menghubungkan aspek fisiologis dan psikologisnya. Ia memaparkan tiga elemen dasar yang terdapat dalam tubuh manusia: endomorphy (berpusat pada abdomen dan sistem pencernaan), mesomorphy (berfokus pada otot dan peredaran darah), ectomorphy (berhubungan dengan otak dan sistem saraf). Berdasar dari elemen ini ia kemudian mengklasifikasikan tiga tipe bentuk tubuh manusia: endomorph (tubuh yang gemuk), mesomorph (tubuh yang bidang dan berotot), ectomorph (tubuh yang kurus). Dalam kaitannya dengan psikologis ia menghubungkan tiga tipe ini pada karakter manusia. –penerj.

 

 

Cuplikan Terjemahan “No Sex in the City”

Teks berikut ini merupakan penggalan dari novel karya Randa Abdel-Fattah, berjudul No Sex in the City, yang dipilih oleh Ibu Femmy Syahrani sebagai teks latihan penerjemahan di sebuah blog yang dikelolanya sendiri. Jika berminat, para pembaca sekalian juga bisa berkunjung atau bahkan bergabung berlatih di sini. Bagi saya pribadi, blog ini inspirasi dan penuh manfaat. Sebab, Ibu Femmy memberikan koreksi dan saran atas hasil terjemahan kita plus pembahasan yang sangat lengkap kalimat per kalimatnya. Seru! Nah, teks selanjutnya adalah hasil terjemahan saya. Selamat membaca. Semoga menikmati.

Teks asli:

My parents were deadset against me getting married before I graduated from university because they wanted me to focus on my studies. Engaged was fine. Married would have to wait. I agreed. I didn’t want to settle down before I graduated. I wanted to start working, enjoy financial independence, travel. Work out who I was and what I wanted in life.

I had no objection to meeting someone and getting engaged. I had it all planned out: fall hopelessly in love with someone at university — maybe through the Islamic or Turkish Society, or with somebody in the same faculty as me — and then enjoy a couple of years of engaged bliss (everybody I know who’s married says engagement is like an extended honeymoon). In other words, I’d have a fiancé who took me out, spoilt me rotten with chocolates and flowers (I had fantasies of flowers being delivered to me during class on Valentine’s Day) and with whom I could build a collection of memories to share as we grew old together.

Romantic comedies have a lot to answer for.

It didn’t happen. Well, I did fall for a guy, Seyf, and he wanted to take things to the next level, but it didn’t work out. I met plenty of guys after Seyf, but I soon realised we had little in common, or that they were really interested in my friend, or that they wanted me to be more traditional (like Kamil, who admired the fact that I was studying but thought it was ultimately unnecessary, given my place was in the home), or less religious (like Mohamad, aka ‘Alan’, who preferred it if I drank, went nightclubbing and sneaked away with him to the Central Coast for a long weekend).

Hasil terjemahan saya:

 Orangtuaku bersikeras padaku agar tidak menikah dulu sebelum aku lulus dari universitas karena mereka ingin aku fokus pada kuliahku. Jika bertunangan, tak apa-apa. Tapi, kalau menikah sebaiknya tunggu dulu. Aku setuju. Aku tidak ingin berumah tangga sebelum aku lulus nanti. Aku ingin bekerja, menikmati kemandirian finansial, bepergian. Mencari tahu siapa aku sebenarnya dan apa yang aku inginkan dalam hidup.

Aku tidak keberatan jika bertemu seseorang dan bertunangan. Aku telah merencanakan segalanya: jatuh cinta begitu mendalam dengan seseorang di universitas—mungkin melalui Komunitas Islam atau Orang Turki, atau dengan seseorang di fakultas yang sama denganku—dan kemudian menikmati beberapa tahun kebahagiaan bertunangan (semua orang yang telah menikah yang aku kenal mengatakan pertunangan itu seperti bulan madu panjang). Dengan kata lain, aku akan memiliki tunangan yang mengajakku jalan-jalan, memanjakanku dengan hadiah coklat dan bunga-bunga (aku berfantasi tentang bunga yang dikirimkan padaku ketika aku berada di kelas di Hari Valentine) dan bersamanya aku membangun sekumpulan kenangan untuk dibagikan hingga kami tua nanti.

Drama-drama komedi romantis itu menjadi penyebab khayalanku.

Itu semua tidak terjadi. Ya, aku jatuh cinta pada seseorang, Seyf, dan dia ingin berhubungan dengan serius, tetapi itu tidak berhasil. Aku bertemu dengan banyak lelaki setelah Seyf, tetapi aku segera menyadari kami memiliki sedikit kesamaan, atau ternyata mereka malah tertarik pada temanku, atau mereka menginginkanku agar lebih tradisional (seperti Kamil, yang mengagumi fakta bahwa aku bisa kuliah tetapi malah berpikir hal itu akhirnya tidak perlu, tempatku seharusnya berada di rumah), atau seorang yang kurang religius (seperti Mohamad, alias “Alan”, yang lebih suka jika aku mabuk, pergi ke klab malam dan pergi diam-diam dengannya ke Central Coast untuk akhir pekan yang panjang).

Berikut ini koreksi dari Ibu Femmy dengan saran diksi/EYD yang sebaiknya diperhatikan:

 Orangtuaku (EYD: Orang tuaku) bersikeras padaku agar tidak menikah dulu sebelum aku lulus dari universitas (Diksi: tamat kuliah) karena mereka ingin aku fokus pada kuliahku. Jika bertunangan, tak apa-apa. Tapi, kalau menikah sebaiknya tunggu dulu. Aku setuju. Aku tidak ingin berumah tangga sebelum aku lulus nanti. Aku ingin bekerja, menikmati kemandirian finansial, bepergian. Mencari tahu siapa aku sebenarnya dan apa yang aku inginkan dalam hidup.

Aku tidak keberatan jika bertemu seseorang dan bertunangan. Aku telah merencanakan segalanya: jatuh cinta begitu mendalam dengan seseorang di universitas (Diksi: teman sekampus)—mungkin melalui Komunitas Islam atau Orang Turki, atau dengan seseorang di fakultas yang sama denganku (Diksi: teman satu fakultas)—dan kemudian menikmati beberapa tahun kebahagiaan bertunangan (semua orang yang telah menikah yang aku kenal  [Diksi: semua kenalanku yang sudah menikah] mengatakan pertunangan itu seperti bulan madu panjang). Dengan kata lain, aku akan memiliki tunangan yang mengajakku jalan-jalan, memanjakanku dengan hadiah coklat (EYD: cokelat) dan bunga-bunga (aku berfantasi tentang bunga yang dikirimkan padaku [Diksi: mendapat kiriman bunga] ketika aku berada di kelas di Hari Valentine [EYD: hari valentine]) dan bersamanya aku membangun sekumpulan kenangan untuk dibagikan hingga kami tua nanti.

Drama-drama (Diksi: Film) komedi romantis itu menjadi penyebab khayalanku.

Itu semua tidak terjadi. Ya, aku jatuh cinta pada seseorang, Seyf, dan dia ingin berhubungan dengan serius, tetapi itu tidak berhasil (Diksi: kemudian kami putus). Aku bertemu dengan banyak lelaki setelah Seyf, tetapi aku segera menyadari kami memiliki sedikit kesamaan, atau ternyata mereka malah tertarik pada temanku, atau mereka menginginkanku agar lebih tradisional (seperti Kamil, yang mengagumi fakta bahwa aku bisa kuliah tetapi malah berpikir hal itu akhirnya tidak perlu, tempatku seharusnya berada di rumah), atau seorang yang kurang religius (Diksi: tidak terlalu alim) (seperti Mohamad, alias “Alan”, yang lebih suka jika aku mabuk (Diksi: mau diajak minum), pergi ke klab (EYD: klub/kelab) malam dan pergi diam-diam dengannya ke Central Coast untuk akhir pekan yang panjang).